Monday, June 1, 2009

Lembaga Keuangan dan Rakyat Miskin

Penulis: Reni Judhanto
Krisis ekonomi telah berdampak pada meningkatnya kemiskinan di Indonesia. Semakin banyak rakyat merasakan betapa kehidupan semakin sulit, harga-harga bahan pokok yang melambung tinggi, biaya pendidikan dan kesehatan semakin tak terjangkau. Itu semua belum cukup karena bayang-bayang PHK dan pengangguran juga menghantui kehidupan sebagian besar rakyat.

Kemiskinan memang selayaknya tidak diperdebatkan, namun harus segera diselesaikan. Pemerintah memang telah menetapkan beberapa program untuk menanggulangi kemiskinan, seperti Program Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Namun, kebijakan dan program tersebut dalam pelaksanaannya seringkali tidak tepat sasaran, sehingga masih banyak orang-orang miskin yang tetap terperangkap dalam kemiskinan.

Salah satu faktor yang menyebabkan orang-orang miskin tetap terperangkap dalam kemiskinan adalah program/kebijakan/pembangunan yang selama ini tidak berpihak pada rakyat miskin. Salah satu contohnya adalah rakyat miskin tidak diberi kemudahan untuk mengakses pinjaman di bank. Selama ini lembaga keuangan selalu menolak orang miskin. Padahal, tanpa adanya modal usaha, seseorang akan sulit untuk keluar dari perangkap kemiskinan.

Ada satu program yang sangat membantu dan memihak rakyat kecil telah dilaksanakan oleh Muhammad Yunus, seorang profesor ekonomi pada Universitas Chittagong, Bangladesh. Program tersebut digulirkan dengan tujuan untuk memberdayakan secara ekonomi serta mengangkat moral dan harga diri kaum miskin. Gerakan pemberdayaan rakyat miskin yang diprakarsainya ternyata diakui telah berhasil memotong lingkaran kemiskinan.

Gerakan yang dalam perkembangannya diwadahi dalam suatu institusi yang bernama Bank Grameen. Dalam perkembangan selanjutnya Bank Grameen diakui sebagai institusi ekonomi paling revolusioner, paling inovatif sekaligus berpengaruh di dunia. Tujuan didirikannya bank tersebut adalah untuk membuat sistem perbankan yang adil, pro rakyat miskin dan pro perempuan.

Awal dari kiprah Muhammad Yunus untuk memberdayakan kemiskinan sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1974. Wujudnya adalah pemberian kredit mikro tanpa agunan untuk orang-orang miskin. Baru pada tahun 1976, Yunus mentransformasikan lembaga kreditnya menjadi sebuah bank formal dengan aturan khusus bernama Bank Grameen. Kredit yang digulirkan pun meluas mencakup pinjaman rumah, proyek irigasi, dan pinjaman usaha lainnya.

Belum puas dengan hasil yang telah dicapainya, pada tahun 2003 Bank Grameen meluncurkan program baru yang membidik para pengemis di Bangladesh. Program yang bernama The Struggling (Beggar) Members Program adalah kampanye berkelanjutan untuk pengentasan kemiskinan.Yang unik dari program ini adalah pinjaman itu tidak dibayar dari uang hasil mengemis. Artinya, dengan cara seperti itu, mereka memang harus berusaha lepas dari pekerjaan mengemis.

Untuk membantu para member yang pengemis ini, pihak Bank Grameen membekali mereka dengan tanda pengenal yang berlogo Bank Grameen. Tanda pengenal itu menunjukkan adanya dukungan Bank Grameen di belakang mereka. Para pengemis yang menjadi member itu dapat mengambil barang senilai batas yang ditentukan di beberapa toko yang ditunjuk, untuk kemudian dijual kembali. Sebelumnya, pihak bank telah membuat perjanjian dengan beberapa toko dan memberikan jaminan kepada toko-toko itu bahwa apabila para pengemis itu gagal membayar, maka yang bertanggungjawab untuk melunasinya adalah Bank Grameen. Para member itu juga dilindungi asuransi jika terjadi kematian.

Ternyata, sistem yang diterapkan Bank Grameen --- tidak memberlakukan surat perjanjian, tidak memberlakukan sanksi serta memberikan kepercayaan pada para membernya --- berhasil mengentas banyak rakyat miskin dari jeratan kemiskinan. Untuk jasanya itu, Muhammad Yunus dan Bank Grameen mendapat Hadiah Perdamaian Nobel 2006.

Kini.., lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat miskin di seluruh dunia telah mengakui dan mengadopsi program yang dilakukan oleh Muhammad Yunus dan Bank Grameen-nya. Yunus juga tidak segan berbagi ilmu tentang hal itu. Yang jadi pertanyaan, apakah Indonesia juga telah mengadopsi program tersebut ? Mengingat banyaknya jumlah rakyat miskin pada saat ini, rasanya kita tidak perlu lagi malu-malu meniru apa yang telah diterapkan Bank Grameen. Tentu saja dengan harapan agar mampu mengentas sebanyak mungkin rakyat dari jeratan kemiskinan. Semoga harapan ini tidak tinggal harapan.....

12 comments:

BIG SUGENG said...

Karena tuntutan citra, pemerintah hanya mengejar angka pertumbuhan saja... tidak melihat pemerataan

kredit untuk kolongmerat bunganya lebih tinggi daripada kredit usaha perorangan. apa kata dunia ?????

Inuel^-^ said...

saya kurang begitu mengerti tentang ini,maklumlah dudutznya kumat,,heheheh,
bukankah buat mengentas kemiskinan itu sendiri harus ada keinginan dan niat dari orang yang bersangkutan,klo kita berusaha mulai dari NOL,insya allah pasti ada jalan,,
(ni komentar juga buat aku,inget thu nuel,heheheh)

Laksamana Embun said...

Pertamaxxxxxx

buwel said...

Wooow muhammad yunus keren ya, mbak reninya juga keren ya...

TRIMATRA said...

Pinjaman untuk kredit mikro tanpa agunan pernah di adakan pemerintah thun 2008 lalu namun hasilnya tak memusakan , faktor penyebabnya justru terletak pada SDM bank penyalur kredit itu yang tidak professional mengelola penyaluran kredit tersebut

banyak bank yang salah memberikan kredit, yg bermodal bisa dapat namun yg justru membutuhkan modal malah ga adapat.

intinya, sebagus apapun program pemerintah mestinya harus disertai dengan pembangunan para aparat pemerintahnya biar berlaku adil dan transparan

artikelnya mbak reni objektif sekali saya rasa....

bunga raya said...

selamat malam sahabat mayaku apa kabar

edylaw said...

Yang lebih parah lagi kalau ngeliat rentenir minjamin orang duit dengan dalih ngebantu orang.
Kalau di bank masih mending ya hehehe...

Tapi kalau pinjman mikro begitu biasanya urusannya ribet dan terkesan di main2kan. ntah juga pegawainya mau minta uang masuk juga hehehe

reni said...

Apakah di Indonesia susah sekali menerapkan lembaga keuangan (baca : perbankan) yang pro rakyat miskin ?

Fanda said...

@Reni: Kayaknya memang sulit, hrs menunggu orang seperti Moh. Yunus, yg punya kepedulian tinggi thd rakyat dan bangsanya.
Good posting mbak Reni!
Dan ide yg bagus buat mas Trimatra utk membuat Slim Magazine ini. Btw, newsflashnya yg di halaman depan apa ga terlalu cepet ya?

Newsoul said...

Muhammad Yunus, pemberdayaan ekonomi, nice posting.

IjoPunkJUtee said...

Kemiskinan emang harus diperangi, mungkinkah di negeri ini? Suatu dilema, Karena kemiskinan menjadi lahan politisi obral janji....

Klo gak ada lagi kemiskinan, mo obral janji apaan lima taon ke depan..?

mbuhlah ra weruh.....

Dinoe said...

memang kemiskinan patut dalam perhatian khusus..terutama saya he..he..maaf mas cuma becanda..

 

Followers